Sunday, 31 January 2016

Soekanto S. A., Salah Satu Penulis Cerita Anak di Indonesia yang Pantas untuk Dipuji



Soekanto S. A., Salah Satu Penulis Cerita Anak di Indonesia yang Pantas untuk Dipuji
Oleh: Yessi Yolanda Guci

Profil
Soekanto S. A., salah satu seorang penulis cerita anak Indonesia legendaris yang lahir pada tahun 1930. Ia memulai karir kepengarangannya sebagai penulis cerpen. Pada tahun 1951 cerpen pertamanya yang berjudul Kenangan Hitam dimuat dalam majalah Mimbar Indonesia. Cerpen-cerpennya banyak dimuat di majalah Kisah (bulanan cerpen Sastra Indonesia yang didirikan oleh Sudjati SA, dengan redaksi HB. Jassin, (alm.) M. Balfas, (alm.) Idrus, “Siasat/Gelanggang” dengan redaksi Asrul Sani/Nuraini Sani/Rivai Apin) serta beberapa dalam mingguan “Nasional” pada 1950-an.
Kumpulan cerpen pertamanya diterbitkan pada tahun 1958 oleh Balai Pustaka dengan judul Bulan Merah yang pernah menarik perhatian Budayawan (alm.) Trisno Sumardjo yang membicarakannya dalam majalah Budaya, khususnya untuk cerpennya “Gali dan Kemudian Timbun”. Cerpen ini masuk dalam antologi cerpen susunan Satyagraha Hoerip dan diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia Depdikbud.
Kumpulan cerpen kedua diterbitkan oleh PT Gaya Favorit Press, berjudul Buku Harian Anakku pada tahun 1981. Pada tahun 1956, Sudjati SA menerbitkan majalah anak-anak Si Kuncung yang dinilai sebagai terobosan saat itu karena kurangnya bacaan anak dan membanjirnya komik luar negeri. Sejak saat itu, Soekanto S. A. bergeser ke penulisan cerita anak hingga saat ini bahkan ia dikenal seorang yang ahli dalam penulisan cerita anak karena ia juga mengamati perkembangan bacaan anak sejak tahun 1950 di samping aktif menulis dan menjadi editor bacan anak-anak.
            Dalam rangka menyambut Tahun Internasional Anak tahun 1979, pada tahun 1978 ia mendapat undangan Unesco untuk mengikuti seminar/training mengenai bacaan anak di Tokyo yang diselenggarakan oleh ACCU (Asian Cultural Centre for Unesco). Pada tahun 1986, ia memenuhi undangan dari IBBY (International Board on Books for Young People) Jepang, untuk hadir dalam kongres IBBY ke-20 di Tokyo yang bertema Why Do You Write For Children di hadapan trainee ACCU. Pada tahun 1988, atas undangan/biaya KPBA (Kelompok Pecinta Bacaan Anak) mengikuti kongres IBBY ke-21 yang diadakan di Oslo, Norwegia dengan tema Children Books and New Media.
            Pada tahun 1979, Soekanto S. A. memperkenalkan kembali di Indonesia, Seni Mendongeng di Taman Ismail Marzuki bahkan di TV bersama Kak Seto. Hingga kini ia dikenal sebagai pendongeng yang pernah mendongeng di Tokyo dan Oslo.

Pandangan
            Soekanto S. A. atau akrab dipanggil dengan Pak Kanto, mendapatkan inspirasi dalam menulis cerita-ceritanya dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya ia menjadikan pengalamannya bersama seorang anak perempuan berumur sembilan tahun bernama Gustini yang pada suatu hari datang ke kantor Si Kuncung menjadi sebuah cerita serial di Majalah Si Kuncung. Gustini ke kantor tersebut berniat ingin mencari hiburan. Mula-mula anak itu bertanya kapan nomor terbaru Si Kuncung terbit. Lalu ia bercerita tentang ikan-ikan kesayangannya yang menggelepar-gelepar ketika tendangan bola adiknya menerjang akuarium. Lalu sejak saat itulah ia sering bertemu dengan Pak Kanto, yang kemudian pada akhirnya bergegas menulis serial Hari-Hari Bersama Gustini. Pantangan dalam cerita anak—terutama menggurui—memaksa Pak Kanto kreatif agar penyelamannya tersaji secara indah dan lebih tersaring. “Supaya hanya sari makanan yang bernilai yang perlu untuk perkembangan jiwa anak,” katanya.
            Buku cerita anak, pertama-tama harus memberikan kenikmatan membaca. “Anak-anak dulu kalau membaca sampai masuk ke kolong supaya tidak diganggu,” kenangnya tentang masa kecil ketujuh anaknya. Sukanto dan istrinya membuat anak-anak mereka tak bisa dipisahkan dari buku. “Buku memberikan kebebasan anak untuk berimajinasi, berbeda dengan televisi yang bersifat mendikte,” lanjut Pak Kanto. Rusaknya minat baca oleh kemajuan teknologi sebenarnya sudah diprediksi dalam berbagai seminar internasional awal tahun 1980-an. ”Salah satu cucu saya sekarang lebih suka main game,” keluhnya.
Pak Kanto menjalani hidupnya secara penuh. “Saya ini ‘selamat’ karena ‘digembala’ Ibu,” ujarnya, tersenyum. “Dia keras, disiplin, dan tak bisa ditawar dalam prinsip. Rapor anak boleh merah, tetapi tidak akhlaknya. Dia sangat peka terhadap penderitaan orang lain dan selalu memberi contoh bertindak kepada kami.” “Kami bersyukur dengan hidup yang sangat sederhana sehingga, alhamdulillah, semua anak kami hidup produktif. Mereka rukun, saling mengasihi, saling membantu.” “Mudah-mudahan akhir hidup saya dipandang-Nya sebagai akhir yang baik. Saya boleh bertemu lagi dengan kekasih dan pendukung saya sepanjang hidup, istri saya.” Itulah kalimat-kalimat sederhana namun sarat akan makna yang Pak Kanto lontarkan kepada  seorang editor dari buku Orang-Orang Tercinta.
Kesederhanaan namun sarat akan makna yang bermanfaat juga terdapat dalam cerpen-cerpen yang dibuat oleh Pak Kanto. Gaya bahasanya yang singkat, padat dan terasa apa adanya membuat cerita-cerita pendek tersebut dapat dipahami dengan baik. Dalam cerita-cerita tersebut juga selalu diselipi dengan nasihat-nasihat yang mengena tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga bagi orang dewasa yang membacanya. Seperti pada cerpen yang berjudul Ibu Jambi dalam buku Orang-Orang Tercinta. Dalam cerita tersebut diceritakan seorang ibu yang mengeluh kepada suaminya karena anak-anaknya susah disuruh membantu ibunya. Disuruh mencuci piring malah lari main ke anak tetangga, disuruh mandi susah, magrib-magrib disuruh pulang juga susah. Lalu tokoh Pak Jambi mengumpulkan semua anak-anaknya tersebut untuk bercerita mengenai kasih ibu kepada anaknya. Seorang ibu yang berjuang menyelamatkan bayinya dari kobaran api di dalam rumahnya tersebut. Namun malang nasib keduanya karena keduanya telah mati dengan ibu yang sedang memeluk bayinya tersebut.
Setelah selesai bercerita lalu Pak Jambi melontarkan pertanyaan kepada salah satu anaknya. “Misalkan ibu dalam keadaan terbakar di rumah ini, Mamat datang dari sekolah, Mamat berani menolong ibu masuk api?” “Berani…..Pak,” Mamat tersenyum. Bu Jambi senang mendengar jawab anaknya dan menyahut, “Tak usah tunggu sampai ibu kebakaran baru ditolong, kalau ibu memanggilmu, cepatlah datang. Disuruh mandi cepat. Disuruh cuci piring tdak mogok, ya Ani?” Win dan Ani memandang ibunya. Tak sepatah pun keluar kata-katanya. Dari cuplikan salah satu cerpen karya Bapak Soekanto S. A. diatas dapat terlihat kesederhanaan cerita,  namun juga terselip akan nasihat bagi pembacanya. Itulah yang saya sangat sukai dari gaya penulisan Pak Kanto. Gaya bahasanya yang sederhana juga singkat, padat dan apa adanya membuat para pembaca juga mudah memahami makna dari cerita tersebut. Karena cerpen-cerpen ini memang ditujukan untuk para anak, maka Pak Kanto berhasil membuat cerita-cerita yang selalu terselip akan nasihat-nasihat baik yang dapat diteladani oleh para anak.
Terdapat sebuah kutipan dari Bapak Soekanto S. A. “Buku memberikan kebebasan anak untuk berimajinasi, berbeda dengan televisi yang bersifat mendikte”. Saya sangat setuju dengan kutipan tersebut. Buku memang membuat imajinasi para pembacanya lebih berkembang terutama para anak-anak. Para orang tua yang sering mendongeng atau membacakan buku cerita pada anaknya lebih membuat anak dapat berpikir lebih kreatif dan juga dapat mencerdaskan anak, terutama cerita-cerita yang isinya mendidik dan memancing anak untuk berpikir, seperti cerita-cerita pendek dari Bapak Soekanto tersebut.
Buku-buku cerita seperti karya Bapak Soekanto inilah yang dibutuhkan oleh anak-anak saat ini. Cerita-cerita yang isinya mendidik dan juga disajikan dengan gaya bahasa yang tidak berat sehingga para anak dapat dengan mudah memahami ceritanya. Saya pun juga merasakan ketulusan dan keseriusan Bapak Soekanto dalam membuat dan mengangkat cerita untuk anak-anak yang baik dan juga sangat bermanfaat untuk anak-anak. Hal tersebutlah yang membuat saya bangga kepada Bapak Soekanto S. A. karena berhasil menciptakan karya untuk para anak yang patut diapresiasi dengan nilai yang sangat tinggi.

Karya
Orang-orang tercinta: kumpulan cerpen anak
Ibuku sahabatku: kumpulan cerpen anak
Suka Dan Duka
Bulan Merah
I Love You, Ayah
Si Pitung: Superhero Betawi Asli
Pahlawan Bersahaja Jendral Sudirman


Sumber
https://books.google.co.id/books?id=ZLxuAwAAQBAJ&pg=PT71&lpg=PT71&dq=profil
https://books.google.co.id/books?id=NYFwAwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=kumpula
https://timbunanresensi.wordpress.com/2013/03/29/orang-orang-tercinta-by-soekanto-sa/

Refleksi Film Denias (Senandung di Atas Awan)



Refleksi Film Denias (Senandung di Atas Awan)
Oleh: Yessi Yolanda Guci

            Denias (Senandung di Atas Awan) adalah film yang menurut saya sangat menyentuh dan juga sangat menginspirasi. Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan tentang kisah seorang anak bernama Denias yang berasal dari suku pedalaman Papua yang berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam film tersebut diceritakan bahwa anak-anak papua disana sangat sulit untuk mendapatkan haknya untuk bersekolah seperti anak-anak pada umumnya. Hanya terdapat satu sekolah yang menampung anak-anak yang ingin bersekolah tersebut. Sekolah tersebut pun hanya berukuran sangat kecil dan terbuat dari bambu-bambu yang membuat bangunan tersebut tidak kokoh. Guru yang mengajar disana pun adalah guru yang dikirimkan dari Jawa dan bukanlah guru tetap yang dapat terus mengajar disana. Walau kenyataannya seperti itu, tetapi seorang anak yang bernama Denias tetap semangat agar dapat bersekolah walaupun ayahnya sendiri melarang dengan keras Denias untuk sekolah. Sangat disayangkan, disaat anak-anak lain beruntung mendapatkan haknya untuk bersekolah dengan layak tetapi anak-anak yang beruntung tersebut malah menyia-nyiakan hal tersebut. Banyak anak-anak saat ini yang sering mengeluh untuk disuruh untuk  sekolah. Hanya karena satu alasan yaitu malas. Film ini sangat cocok ditonton untuk segala umur karena film ini dapat menginspirasi para anak-anak dan juga orang tua untuk menyadari betapa pentingnya pendidikan. Film ini juga mengajak kita untuk bersyukur karena kita beruntung masih dapat mengenyam pendidikan dengan layak.
            Selain menginspirasi film ini juga menguras air mata saya. Saya sangat tersentuh dengan perjuangan Denias untuk dapat bersekolah. Walaupun sudah ditentang oleh ayahnya untuk bersekolah, tetapi Denias sadar betapa pentingnya sekolah dan ia pun pergi ke kota yang jaraknya sangat jauh dengan berjalan kaki dan hanya berbekal peta Indonesia yang terbuat dari kardus, bola dan seragam SD yang diberikan oleh Maleo agar dapat bersekolah di kota. Saya pun juga tersentuh saat melihat kebahagiaan Denias dan teman-temannya saat diberikan hadiah baju seragam SD oleh Maleo. Baju seragam tersebut pun  bersama topi dan dasi nya terus mereka pakai dari siang hingga malam hari saat mereka tidur. Terdapat juga tokoh yang bernama Enos. Seorang anak yang unik, polos dan juga humoris. Ia juga ingin bersekolah seperti Denias sampai ia bersedia untuk kembali ke kampungnya untuk mengambil rapot agar juga dapat bersekolah. Ditonjolkannya kepolosan dari anak-anak tersebutlah yang membuat film ini menjadi sukses. Terdapat tokoh-tokoh yang juga berperan sangat besar dalam memperjuangkan Denias agar dapat diterima untuk sekolah yaitu Maleo dan Ibu Gembala. Maleo yang profesi aslinya adalah seorang TNI tetapi ia sangat peduli akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak di wilayah pedalaman papua tersebut. Ibu gembala pun memiliki pandangan yang sama, ia juga memperjuangkan hak Denias untuk bersekolah yang walaupun beberapa guru sempat menentang hal tersebut. Hal mengenai kesejahteraan masyarakat seperti itu seharusnya ditangani oleh pemerintah karena mereka yang lebih bertanggungjawab. Hal tersebutlah yang menjadi pertanyaan saya. Dimanakah peran pemerintah dalam menjalankan tugasnya untuk mensejahterakan masyarakatnya khususnya dalam hal ini adalah pendidikan. Tanggungjawab untuk menyediakan sekolah yang layak dan merata untuk di wilayah Papua termasuk di wilayah pedalaman sekalipun. Bukankah di UU Sisdiknas Pasal 6 ayat (1), sudah disebutkan bahwa setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Tetapi sayangnya pasal tersebut tidak berlaku dikenyataannya. Mungkin sampai saat ini masih banyak “Denias-Denias” lain diluar sana yang masih memperjuangkan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dari film ini saya dapat berkaca pada diri saya sendiri betapa berharganya kesempatan untuk bersekolah dan betapa beruntungnya saya dapat mengenyam pendidikan dengan layak. Semoga keadilan terus berpihak pada anak-anak yang berhak untuk bersekolah sehingga tidak akan ada lagi “Denias-Denias” lainnya diluar sana.

Tentang Biografi dalam Mata Kuliah Bacaan Anak Indonesia



Tentang Biografi dalam Mata Kuliah Bacaan Anak Indonesia
Oleh : Yessi Yolanda Guci

Mata Kuliah            : Bacaan Anak Indonesia 
Dosen                     : Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D
Tema                       : Biografi
Tanggal Perkuliahan : 10-03-2015

            Pada hari Selasa, tanggal 10 Maret 2015, Ibu Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D membahas tema mengenai biografi di kelas Bacaan Anak Indonesia. Menurut Ibu Riris, biografi adalah jenis karya sastra non fiksi (cerita berdasarkan fakta bukan cerita fantasi, dongeng atau legenda) dan biografi tersebut berisi mengenai manusia. Selain itu menurut Ibu Riris, biografi merupakan perjalanan kehidupan seseorang dan selalu terkait dengan sejarah,  sejarah yang dimaksud disini adalah sejarah hidup seseorang. Dalam hal ini saya memiliki suatu paham mengenai biografi itu sendiri, yaitu biografi haruslah mengenai perjalanan kehidupan seseorang dan harus ditulis atau diceritakan sesuai kenyataan yang ada karena biografi adalah jenis karya sastra non fiksi bukan karya sastra fiksi yang ceritanya dapat dikarang oleh seseorang dan tidak sesuai fakta atau kenyataan. Biografi tersebut juga selalu terkait dengan sejarah hidup seseorang, karena biografi mengangkat cerita mengenai perjalanan hidup seseorang yang dialami orang tersebut di masa lalunya.
            Ibu Riris juga menjelaskan bahwa biografi penting untuk membangun seorang anak. Menurut Ibu Riris, pada masa golden age anak-anak  harus diberi tokoh teladan. Saya sangat setuju dengan pernyataan Ibu Riris tersebut karena pada masa tersebut anak-anak masih memiliki otak yang “segar”, yaitu otaknya masih mudah menyerap banyak hal atau informasi, masih mudah mencerna informasi baru yang mereka dapatkan dan informasi-informasi tersebut nantinya akan berdampak bagi anak di kemudian hari. Oleh karena itu, pada masa-masa tersebut anak-anak sangat baik untuk diberikan pengetahuan mengenai tokoh-tokoh yang baik untuk mereka teladani. Menurut saya, bila anak-anak sudah dibekali seorang ataupun banyak tokoh teladan yang baik untuk mereka teladani pada masa golden age tersebut maka anak-anak tersebut akan menjadi anak-anak yang percaya diri, memiliki tekad yang kuat dan tidak mudah putus asa. Misalnya seperti, ada seorang tokoh yang pada masa lalunya hanya seorang perantau dari Padang ke Jakarta yang tidak lulus SD karena keterbatasan biaya dan saat di Jakarta ia tidak memiliki pekerjaan dan bahkan tidak memiliki rumah tetapi berkat kegigihan dan tekad yang kuat, saat ini ia menjadi pengusaha besar di Jakarta.
            Selain itu, menurut Ibu Riris, penulis harus dapat memilih bagian mana dalam kisah hidup seseorang yang paling baik untuk diceritakan kepada anak-anak. Penulis harus bijaksana dalam memilih kisah mana yang lebih baik untuk anak ketahui dan teladani. Saya sangat setuju dengan pernyataan Ibu Riris tersebut, karena seorang tokoh yang akan diceritakan kisah perjalanan hidupnya tersebut pastinya memiliki berbagai macam peristiwa dalam hidupnya, ada peristiwa yang buruk yang ia alami dan juga ada yang baik. Kedua peristiwa tersebut memang sah-sah saja untuk diceritakan karena bagian yang buruk dari seseorang itulah yang menunjukan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Seperti misalnya pada kisah tentang tokoh yang saya contohkan sebelumnya, walaupun ia tidak lulus SD tetapi ia dapat menjadi pengusaha besar di Jakarta. Walaupun tokoh tersebut saat ini sukses tetapi ia juga pernah gagal pada masa lalaunya karena ia tidak seberuntung anak-anak lain yang dapat melanjutkan sekolah. Dari kisah kegagalan tersebutlah yang dapat dijadikan teladan untuk anak-anak. Oleh karena itu, penulis juga harus dapat bijaksana dalam memilah, mana hal-hal yang baik dan yang tidak baik untuk diceritakan kepada anak-anak.