Refleksi Film Denias (Senandung di Atas Awan)
Oleh: Yessi Yolanda Guci
Denias (Senandung di Atas Awan) adalah
film yang menurut saya sangat menyentuh dan juga sangat menginspirasi. Film
yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan tentang kisah seorang anak bernama
Denias yang berasal dari suku pedalaman Papua yang berjuang untuk mendapatkan
pendidikan yang layak. Dalam film tersebut diceritakan bahwa anak-anak papua
disana sangat sulit untuk mendapatkan haknya untuk bersekolah seperti anak-anak
pada umumnya. Hanya terdapat satu sekolah yang menampung anak-anak yang ingin
bersekolah tersebut. Sekolah tersebut pun hanya berukuran sangat kecil dan
terbuat dari bambu-bambu yang membuat bangunan tersebut tidak kokoh. Guru yang
mengajar disana pun adalah guru yang dikirimkan dari Jawa dan bukanlah guru
tetap yang dapat terus mengajar disana. Walau kenyataannya seperti itu, tetapi
seorang anak yang bernama Denias tetap semangat agar dapat bersekolah walaupun
ayahnya sendiri melarang dengan keras Denias untuk sekolah. Sangat disayangkan,
disaat anak-anak lain beruntung mendapatkan haknya untuk bersekolah dengan layak
tetapi anak-anak yang beruntung tersebut malah menyia-nyiakan hal tersebut.
Banyak anak-anak saat ini yang sering mengeluh untuk disuruh untuk sekolah. Hanya karena satu alasan yaitu malas.
Film ini sangat cocok ditonton untuk segala umur karena film ini dapat
menginspirasi para anak-anak dan juga orang tua untuk menyadari betapa
pentingnya pendidikan. Film ini juga mengajak kita untuk bersyukur karena kita
beruntung masih dapat mengenyam pendidikan dengan layak.
Selain
menginspirasi film ini juga menguras air mata saya. Saya sangat tersentuh
dengan perjuangan Denias untuk dapat bersekolah. Walaupun sudah ditentang oleh
ayahnya untuk bersekolah, tetapi Denias sadar betapa pentingnya sekolah dan ia
pun pergi ke kota yang jaraknya sangat jauh dengan berjalan kaki dan hanya
berbekal peta Indonesia yang terbuat dari kardus, bola dan seragam SD yang
diberikan oleh Maleo agar dapat bersekolah di kota. Saya pun juga tersentuh
saat melihat kebahagiaan Denias dan teman-temannya saat diberikan hadiah baju
seragam SD oleh Maleo. Baju seragam tersebut pun bersama topi dan dasi nya terus mereka pakai dari
siang hingga malam hari saat mereka tidur. Terdapat juga tokoh yang bernama
Enos. Seorang anak yang unik, polos dan juga humoris. Ia juga ingin bersekolah
seperti Denias sampai ia bersedia untuk kembali ke kampungnya untuk mengambil
rapot agar juga dapat bersekolah. Ditonjolkannya kepolosan dari anak-anak
tersebutlah yang membuat film ini menjadi sukses. Terdapat tokoh-tokoh yang
juga berperan sangat besar dalam memperjuangkan Denias agar dapat diterima
untuk sekolah yaitu Maleo dan Ibu Gembala. Maleo yang profesi aslinya adalah
seorang TNI tetapi ia sangat peduli akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak
di wilayah pedalaman papua tersebut. Ibu gembala pun memiliki pandangan yang
sama, ia juga memperjuangkan hak Denias untuk bersekolah yang walaupun beberapa
guru sempat menentang hal tersebut. Hal mengenai kesejahteraan masyarakat
seperti itu seharusnya ditangani oleh pemerintah karena mereka yang lebih
bertanggungjawab. Hal tersebutlah yang menjadi pertanyaan saya. Dimanakah peran
pemerintah dalam menjalankan tugasnya untuk mensejahterakan masyarakatnya
khususnya dalam hal ini adalah pendidikan. Tanggungjawab untuk menyediakan
sekolah yang layak dan merata untuk di wilayah Papua termasuk di wilayah
pedalaman sekalipun. Bukankah di UU Sisdiknas Pasal 6 ayat (1), sudah
disebutkan bahwa setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima
belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Tetapi sayangnya pasal tersebut
tidak berlaku dikenyataannya. Mungkin sampai saat ini masih banyak
“Denias-Denias” lain diluar sana yang masih memperjuangkan haknya untuk
mendapatkan pendidikan yang layak. Dari film ini saya dapat berkaca pada diri
saya sendiri betapa berharganya kesempatan untuk bersekolah dan betapa
beruntungnya saya dapat mengenyam pendidikan dengan layak. Semoga keadilan
terus berpihak pada anak-anak yang berhak untuk bersekolah sehingga tidak akan
ada lagi “Denias-Denias” lainnya diluar sana.
No comments:
Post a Comment