Sunday, 31 January 2016

Refleksi Film Denias (Senandung di Atas Awan)



Refleksi Film Denias (Senandung di Atas Awan)
Oleh: Yessi Yolanda Guci

            Denias (Senandung di Atas Awan) adalah film yang menurut saya sangat menyentuh dan juga sangat menginspirasi. Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan tentang kisah seorang anak bernama Denias yang berasal dari suku pedalaman Papua yang berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam film tersebut diceritakan bahwa anak-anak papua disana sangat sulit untuk mendapatkan haknya untuk bersekolah seperti anak-anak pada umumnya. Hanya terdapat satu sekolah yang menampung anak-anak yang ingin bersekolah tersebut. Sekolah tersebut pun hanya berukuran sangat kecil dan terbuat dari bambu-bambu yang membuat bangunan tersebut tidak kokoh. Guru yang mengajar disana pun adalah guru yang dikirimkan dari Jawa dan bukanlah guru tetap yang dapat terus mengajar disana. Walau kenyataannya seperti itu, tetapi seorang anak yang bernama Denias tetap semangat agar dapat bersekolah walaupun ayahnya sendiri melarang dengan keras Denias untuk sekolah. Sangat disayangkan, disaat anak-anak lain beruntung mendapatkan haknya untuk bersekolah dengan layak tetapi anak-anak yang beruntung tersebut malah menyia-nyiakan hal tersebut. Banyak anak-anak saat ini yang sering mengeluh untuk disuruh untuk  sekolah. Hanya karena satu alasan yaitu malas. Film ini sangat cocok ditonton untuk segala umur karena film ini dapat menginspirasi para anak-anak dan juga orang tua untuk menyadari betapa pentingnya pendidikan. Film ini juga mengajak kita untuk bersyukur karena kita beruntung masih dapat mengenyam pendidikan dengan layak.
            Selain menginspirasi film ini juga menguras air mata saya. Saya sangat tersentuh dengan perjuangan Denias untuk dapat bersekolah. Walaupun sudah ditentang oleh ayahnya untuk bersekolah, tetapi Denias sadar betapa pentingnya sekolah dan ia pun pergi ke kota yang jaraknya sangat jauh dengan berjalan kaki dan hanya berbekal peta Indonesia yang terbuat dari kardus, bola dan seragam SD yang diberikan oleh Maleo agar dapat bersekolah di kota. Saya pun juga tersentuh saat melihat kebahagiaan Denias dan teman-temannya saat diberikan hadiah baju seragam SD oleh Maleo. Baju seragam tersebut pun  bersama topi dan dasi nya terus mereka pakai dari siang hingga malam hari saat mereka tidur. Terdapat juga tokoh yang bernama Enos. Seorang anak yang unik, polos dan juga humoris. Ia juga ingin bersekolah seperti Denias sampai ia bersedia untuk kembali ke kampungnya untuk mengambil rapot agar juga dapat bersekolah. Ditonjolkannya kepolosan dari anak-anak tersebutlah yang membuat film ini menjadi sukses. Terdapat tokoh-tokoh yang juga berperan sangat besar dalam memperjuangkan Denias agar dapat diterima untuk sekolah yaitu Maleo dan Ibu Gembala. Maleo yang profesi aslinya adalah seorang TNI tetapi ia sangat peduli akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak di wilayah pedalaman papua tersebut. Ibu gembala pun memiliki pandangan yang sama, ia juga memperjuangkan hak Denias untuk bersekolah yang walaupun beberapa guru sempat menentang hal tersebut. Hal mengenai kesejahteraan masyarakat seperti itu seharusnya ditangani oleh pemerintah karena mereka yang lebih bertanggungjawab. Hal tersebutlah yang menjadi pertanyaan saya. Dimanakah peran pemerintah dalam menjalankan tugasnya untuk mensejahterakan masyarakatnya khususnya dalam hal ini adalah pendidikan. Tanggungjawab untuk menyediakan sekolah yang layak dan merata untuk di wilayah Papua termasuk di wilayah pedalaman sekalipun. Bukankah di UU Sisdiknas Pasal 6 ayat (1), sudah disebutkan bahwa setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Tetapi sayangnya pasal tersebut tidak berlaku dikenyataannya. Mungkin sampai saat ini masih banyak “Denias-Denias” lain diluar sana yang masih memperjuangkan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dari film ini saya dapat berkaca pada diri saya sendiri betapa berharganya kesempatan untuk bersekolah dan betapa beruntungnya saya dapat mengenyam pendidikan dengan layak. Semoga keadilan terus berpihak pada anak-anak yang berhak untuk bersekolah sehingga tidak akan ada lagi “Denias-Denias” lainnya diluar sana.

No comments:

Post a Comment