Sunday, 31 January 2016

Pertualangan Alice, Kaya dengan Imajinasi Namun Bukan untuk Anak-Anak



Pertualangan Alice, Kaya dengan Imajinasi Namun Bukan untuk Anak-Anak
Oleh : Yessi Yolanda Guci

Judul Buku       : Pertualangan Alice (Alice di Negeri Ajaib dan Alice Menembus Cermin)
Penulis             : Lewis Carroll
Penerjemah      : Agustina Reni Eta Sitepoe
Tahun Terbit     : 2010
Usia kelayakan pembaca : 13 tahun keatas (remaja)

            Novel yang berjudul Pertualangan Alice (Alice di Negeri Ajaib dan Alice Menembus Cermin) adalah sebuah novel terjemahan dari  Alice’s Adventures in Wonderland and Through The Looking-Glass karya Lewis Carroll. Novel karya Carroll tersebut merupakan cerita atau dongeng anak-anak yang cukup terkenal. Dari awal kemunculannya pada tahun 1856 hingga saat ini, dongeng anak-anak tersebut masih dikenal oleh banyak orang. Isi dari novel tersebut terbagi atas dua cerita; cerita pertama berjudul  Alice di Negeri Ajaib dan cerita yang kedua berjudul Alice Menembus Cermin.
            Alice di Negeri Ajaib adalah sebuah cerita fantasi tentang Alice, seorang gadis kecil yang berpetualang di sebuah negeri ajaib. Negeri yang di dalamnya terdapat hewan-hewan yang dapat bicara serta makhluk-makhluk yang memiliki rupa aneh. Di negeri tersebut juga terdapat makanan-makanan serta minuman yang dapat membuat tubuh Alice menjadi besar dan kecil. Disana alice bertemu, berbincang, bernyanyi serta bermain bersama hewan-hewan yang dapat bicara dan makhluk-makhluk yang berupa aneh tersebut. Pada akhir cerita diceritakan bahwa semua hal yang dialami oleh Alice tersebut hanyalah sebuah mimpi. Pada cerita kedua yang berjudul Alice Menembus Cermin terdapat kisah mengenai pertualangan Alice yang berada dalam dunia di balik cermin. Disana Alice menemukan sebuah padang bunga, bertemu dengan bunga-bunga yang dapat bicara, bertemu dengan aneka ragam serangga aneh,  bermain catur besar dan masih banyak hal yang menarik lainnya.
            Kedua cerita tentang pertualangan seorang gadis kecil di negeri ajaib dan di dunia di balik cermin tersebut merupakan kedua cerita yang penuh dengan imajinasi. Imajinasi dari seorang gadis kecil yang dituangkan ke dalam sebuah mimpi. Kedua kisah tersebut merupakan kisah yang sangat menarik karena memperlihatkan adanya kekayaan imajinasi yang dimiliki seorang gadis kecil yang seolah-olah penulis ingin memberitahukan kepada para pembaca bahwa dunia seorang anak kecil adalah dunia yang penuh dengan imajinasi. Tetapi terdapat hal-hal yang janggal pada cerita karya Carroll tersebut yaitu, bahasanya yang berat seperti banyak terdapat kalimat-kalimat implisit di dalamnya, salah satu contohnya adalah “Bila setiap orang memikirkan urusannya sendiri-sendiri,” kata sang Putri menggeram keras, “bumi ini akan berputar cepat dari seharusnya.” (Bab 6: Babi dan Merica, hal.61). Kalimat-kalimat tersebut adalah sebuah ungkapan yang belum tentu semua anak-anak dapat memahaminya. Selain itu, juga terdapat banyak puisi-puisi yang diterjemahkan dengan ‘apa adanya’ oleh penerjemah yang membuat puisi-puisi tersebut terasa kaku dan sulit untuk dimengerti. Dalam cerita tersebut juga ditunjukkan adanya perilaku yang buruk dari beberapa tokoh yang hal-hal tersebut tidak pantas untuk ditunjukkan kepada anak-anak. Seperti, terdapat tokoh juru masak yang melemparkan kuali sup, wajan, piring dan cangkir kepada seorang putri dan juga bayinya, “Saat ia mencoba. . . . . dan seketika itu juga bersiap untuk melemparkan apa pun yang berada dalam jangakuannya kepada sang Putri dan bayi.” (Bab 6: Babi dan Merica, hal.61). Selain itu terdapat tokoh Ratu yang memiliki karakter seperti pemimpin yang tiran yang hanya karena kesalahan sedikit saja dari para bawahan dan penduduk di negeri ajaib, ia langsung memerintahkan untuk memenggal kepala mereka hanya karena melakukan kesalahan kecil tersebut, “Penggal kepalanya! Penggal...” (Bab 8: Lap.Croquet Sang Ratu hal.84). Semua hal tersebut jelas tidak pantas untuk ditunjukkan kepada anak-anak. Mereka bisa saja meniru apa yang terdapat pada cerita tersebut, karena anak-anak memiliki kecenderungan untuk meniru dan belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
            Dari beberapa hal diatas dapat disimpulkan bahwa cerita karya Lewis Carroll tersebut tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak yang berusia dibawah 13 tahun.

No comments:

Post a Comment