Soekanto S. A., Salah Satu Penulis Cerita Anak di Indonesia yang Pantas untuk Dipuji
Oleh: Yessi Yolanda Guci
Profil
Soekanto S. A., salah
satu seorang penulis cerita anak Indonesia legendaris yang lahir pada tahun
1930. Ia memulai karir kepengarangannya sebagai penulis cerpen. Pada tahun 1951
cerpen pertamanya yang berjudul Kenangan
Hitam dimuat dalam majalah Mimbar
Indonesia. Cerpen-cerpennya banyak dimuat di majalah Kisah (bulanan cerpen Sastra Indonesia yang didirikan oleh Sudjati
SA, dengan redaksi HB. Jassin, (alm.) M. Balfas, (alm.) Idrus, “Siasat/Gelanggang”
dengan redaksi Asrul Sani/Nuraini Sani/Rivai Apin) serta beberapa dalam
mingguan “Nasional” pada 1950-an.
Kumpulan cerpen
pertamanya diterbitkan pada tahun 1958 oleh Balai Pustaka dengan judul Bulan Merah yang pernah menarik
perhatian Budayawan (alm.) Trisno Sumardjo yang membicarakannya dalam majalah Budaya, khususnya untuk cerpennya “Gali
dan Kemudian Timbun”. Cerpen ini masuk dalam antologi cerpen susunan Satyagraha Hoerip dan diterbitkan oleh
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia Depdikbud.
Kumpulan cerpen kedua
diterbitkan oleh PT Gaya Favorit Press, berjudul Buku Harian Anakku pada tahun 1981. Pada tahun 1956, Sudjati SA
menerbitkan majalah anak-anak Si Kuncung
yang dinilai sebagai terobosan saat itu karena kurangnya bacaan anak dan
membanjirnya komik luar negeri. Sejak saat itu, Soekanto S. A. bergeser ke
penulisan cerita anak hingga saat ini bahkan ia dikenal seorang yang ahli dalam
penulisan cerita anak karena ia juga mengamati perkembangan bacaan anak sejak
tahun 1950 di samping aktif menulis dan menjadi editor bacan anak-anak.
Dalam
rangka menyambut Tahun Internasional Anak tahun 1979, pada tahun 1978 ia
mendapat undangan Unesco untuk mengikuti seminar/training mengenai bacaan anak di Tokyo yang diselenggarakan oleh
ACCU (Asian Cultural Centre for Unesco). Pada tahun 1986, ia memenuhi undangan
dari IBBY (International Board on Books for Young People) Jepang, untuk hadir
dalam kongres IBBY ke-20 di Tokyo yang bertema Why Do You Write For Children di hadapan trainee ACCU. Pada tahun 1988, atas undangan/biaya KPBA (Kelompok
Pecinta Bacaan Anak) mengikuti kongres IBBY ke-21 yang diadakan di Oslo,
Norwegia dengan tema Children Books and
New Media.
Pada
tahun 1979, Soekanto S. A. memperkenalkan kembali di Indonesia, Seni Mendongeng
di Taman Ismail Marzuki bahkan di TV bersama Kak Seto. Hingga kini ia dikenal
sebagai pendongeng yang pernah mendongeng di Tokyo dan Oslo.
Pandangan
Soekanto
S. A. atau akrab dipanggil dengan Pak Kanto, mendapatkan inspirasi dalam
menulis cerita-ceritanya dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Salah
satu contohnya ia menjadikan pengalamannya bersama seorang anak perempuan
berumur sembilan tahun bernama Gustini yang pada suatu hari datang ke kantor Si Kuncung menjadi sebuah cerita serial
di Majalah Si Kuncung. Gustini ke
kantor tersebut berniat ingin mencari hiburan. Mula-mula anak itu bertanya kapan
nomor terbaru Si Kuncung terbit. Lalu
ia bercerita tentang ikan-ikan kesayangannya yang menggelepar-gelepar ketika
tendangan bola adiknya menerjang akuarium. Lalu sejak saat itulah ia sering
bertemu dengan Pak Kanto, yang kemudian pada akhirnya bergegas menulis serial Hari-Hari Bersama Gustini.
Pantangan
dalam cerita anak—terutama menggurui—memaksa Pak Kanto kreatif agar
penyelamannya tersaji secara indah dan lebih tersaring. “Supaya hanya sari
makanan yang bernilai yang perlu untuk perkembangan jiwa anak,” katanya.
Buku cerita anak, pertama-tama harus memberikan
kenikmatan membaca. “Anak-anak dulu kalau membaca sampai masuk ke kolong supaya
tidak diganggu,” kenangnya tentang masa kecil ketujuh anaknya. Sukanto dan
istrinya membuat anak-anak mereka tak bisa dipisahkan dari buku. “Buku
memberikan kebebasan anak untuk berimajinasi, berbeda dengan televisi yang
bersifat mendikte,” lanjut Pak Kanto. Rusaknya minat baca oleh kemajuan
teknologi sebenarnya sudah diprediksi dalam berbagai seminar internasional awal
tahun 1980-an. ”Salah satu cucu saya sekarang lebih suka main game,” keluhnya.
Pak
Kanto menjalani hidupnya secara penuh. “Saya ini ‘selamat’ karena ‘digembala’
Ibu,” ujarnya, tersenyum. “Dia keras, disiplin, dan tak bisa ditawar dalam
prinsip. Rapor anak boleh merah, tetapi tidak akhlaknya. Dia sangat peka
terhadap penderitaan orang lain dan selalu memberi contoh bertindak kepada
kami.” “Kami bersyukur dengan hidup yang sangat sederhana sehingga,
alhamdulillah, semua anak kami hidup produktif. Mereka rukun, saling mengasihi,
saling membantu.” “Mudah-mudahan akhir hidup saya dipandang-Nya sebagai akhir
yang baik. Saya boleh bertemu lagi dengan kekasih dan pendukung saya sepanjang
hidup, istri saya.” Itulah kalimat-kalimat sederhana namun sarat akan makna
yang Pak Kanto lontarkan kepada seorang
editor dari buku Orang-Orang Tercinta.
Kesederhanaan
namun sarat akan makna yang bermanfaat juga terdapat dalam cerpen-cerpen yang
dibuat oleh Pak Kanto. Gaya bahasanya yang singkat, padat dan terasa apa adanya
membuat cerita-cerita pendek tersebut dapat dipahami dengan baik. Dalam
cerita-cerita tersebut juga selalu diselipi dengan nasihat-nasihat yang mengena
tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga bagi orang dewasa yang membacanya.
Seperti pada cerpen yang berjudul Ibu
Jambi dalam buku Orang-Orang Tercinta. Dalam
cerita tersebut diceritakan seorang ibu yang mengeluh kepada suaminya karena
anak-anaknya susah disuruh membantu ibunya. Disuruh mencuci piring malah lari
main ke anak tetangga, disuruh mandi susah, magrib-magrib disuruh pulang juga
susah. Lalu tokoh Pak Jambi mengumpulkan semua anak-anaknya tersebut untuk
bercerita mengenai kasih ibu kepada anaknya. Seorang ibu yang berjuang
menyelamatkan bayinya dari kobaran api di dalam rumahnya tersebut. Namun malang
nasib keduanya karena keduanya telah mati dengan ibu yang sedang memeluk
bayinya tersebut.
Setelah selesai bercerita lalu Pak
Jambi melontarkan pertanyaan kepada salah satu anaknya. “Misalkan ibu dalam keadaan terbakar di rumah ini, Mamat datang dari
sekolah, Mamat berani menolong ibu masuk api?” “Berani…..Pak,” Mamat tersenyum.
Bu Jambi senang mendengar jawab anaknya dan menyahut, “Tak usah tunggu sampai
ibu kebakaran baru ditolong, kalau ibu memanggilmu, cepatlah datang. Disuruh
mandi cepat. Disuruh cuci piring tdak mogok, ya Ani?” Win dan Ani memandang
ibunya. Tak sepatah pun keluar kata-katanya. Dari cuplikan salah satu
cerpen karya Bapak Soekanto S. A. diatas dapat terlihat kesederhanaan
cerita, namun juga terselip akan nasihat
bagi pembacanya. Itulah yang saya sangat sukai dari gaya penulisan Pak Kanto.
Gaya bahasanya yang sederhana juga singkat, padat dan apa adanya membuat para
pembaca juga mudah memahami makna dari cerita tersebut. Karena cerpen-cerpen
ini memang ditujukan untuk para anak, maka Pak Kanto berhasil membuat
cerita-cerita yang selalu terselip akan nasihat-nasihat baik yang dapat
diteladani oleh para anak.
Terdapat sebuah kutipan dari Bapak
Soekanto S. A. “Buku memberikan kebebasan
anak untuk berimajinasi, berbeda dengan televisi yang bersifat mendikte”.
Saya sangat setuju dengan kutipan tersebut. Buku memang membuat imajinasi para
pembacanya lebih berkembang terutama para anak-anak. Para orang tua yang sering
mendongeng atau membacakan buku cerita pada anaknya lebih membuat anak dapat
berpikir lebih kreatif dan juga dapat mencerdaskan anak, terutama cerita-cerita
yang isinya mendidik dan memancing anak untuk berpikir, seperti cerita-cerita
pendek dari Bapak Soekanto tersebut.
Buku-buku cerita seperti karya Bapak
Soekanto inilah yang dibutuhkan oleh anak-anak saat ini. Cerita-cerita yang
isinya mendidik dan juga disajikan dengan gaya bahasa yang tidak berat sehingga
para anak dapat dengan mudah memahami ceritanya. Saya pun juga merasakan
ketulusan dan keseriusan Bapak Soekanto dalam membuat dan mengangkat cerita
untuk anak-anak yang baik dan juga sangat bermanfaat untuk anak-anak. Hal
tersebutlah yang membuat saya bangga kepada Bapak Soekanto S. A. karena
berhasil menciptakan karya untuk para anak yang patut diapresiasi dengan nilai
yang sangat tinggi.
Karya
Orang-orang tercinta: kumpulan cerpen anak
Orang-orang tercinta: kumpulan cerpen anak
Ibuku sahabatku:
kumpulan cerpen anak
Suka Dan
Duka
Bulan Merah
I Love You,
Ayah
Si Pitung:
Superhero Betawi Asli
Pahlawan
Bersahaja Jendral Sudirman
Sumber
https://books.google.co.id/books?id=ZLxuAwAAQBAJ&pg=PT71&lpg=PT71&dq=profil
https://books.google.co.id/books?id=NYFwAwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=kumpula
https://timbunanresensi.wordpress.com/2013/03/29/orang-orang-tercinta-by-soekanto-sa/
No comments:
Post a Comment