Sunday, 31 January 2016

Apakah Buku Qania Serba Tahu adalah Buku Cerita Bergambar Anak yang Baik?




Apakah Buku Qania Serba Tahu adalah Buku Cerita Bergambar Anak yang Baik?
Oleh: Yessi Yolanda Guci


Judul buku      : Qania Serba Tahu
Penulis             : Pipiet Senja
Ilustrasi           : Yul C

Buku cerita bergambar anak yang berjudul Qania Serba Tahu ini, menurut saya memiliki lebih banyak kekurangan daripada kelebihan didalamnya. Saya akan menyebutkan kelebihannya terlebih dahulu.

Pertama, buku ini ingin mengajak anak-anak untuk gemar membaca sejak dini. Anak-anak yang membaca buku ini diharapkan dapat mencontoh Qania yang gemar membaca sejak dini. Terlihat dari cerita bahwa Qania gemar membaca buku sejak kecil. Hal tersebut terdapat pada kalimat  “Sejak kecil, membaca buku adalah kegemarannya.” (hal.4). Dampak dari kegemaran Qania membaca buku adalah Qania menjadi anak yang pintar. Buku ini mengharapkan anak-anak untuk lebih bisa mengasah keinginan-tahuannya terhadap berbagai hal melalui membaca agar dapat memiliki berbagai pengetahuan sejak masih dini. Menurut saya, hal tersebut baik untuk anak.

Kedua, di halaman awal buku ini terdapat kolom yang berjudul Tips untuk Orangtua, menurut saya tips-tips tersebut bermanfaat untuk para orangtua, karena menurut saya tidak semua orangtua dapat memahami bagaimana cara yang baik dan tepat untuk menangani kemampuan yang dimiliki anaknya. Salah satu tips dari empat tips untuk orangtua tersebut berisi, “Anak akan lebih mudah terstimulus dari kebiasaan dan perilaku yang ditampilkan kedua orangtuanya. Maka, tampilkanlah kebiasaan dan perilaku terbaik agar anak mencontohnya.” Tips tersebut sangat berguna untuk para orangtua agar lebih berhati-hati dalam hal berperilaku di depan anaknya. Para orangtua diharapkan lebih bijak dalam berperilaku karena anak-anak akan meniru apapun yang dilihatnya tanpa dapat membedakan hal tersebut baik ataupun buruk.


Ketiga, diangkatnya tema anak yang jenius dalam cerita ini. Anak-anak yang berada di dunia ini memiliki kemampuan otak yang beragam, dan diantaranya terdapat anak yang memiliki otak jenius. Otak anak tersebut lebih cepat dalam menyerap berbagai pengetahuan dibandingkan otak anak-anak seumurnya. Dari cerita tersebut orangtua yang memiliki anak yang jenius dapat memahami bagaimana cara yang baik dan tepat untuk menangani kemampuan anaknya tersebut, seperti yang ditampilkan dalam cerita bahwa orangtua Qania akhirnya menyekolahkan Qania sementara di rumah dengan didampingi oleh ayah dan ibunya karena Qania telah memiliki kemampuan diatas tingkat kelas pada usianya. Dengan ayah dan ibunya mendampinginya tersebut memperlihatkan bahwa Qania mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya tersebut dan memang itulah yang seharusnya para orangtua lakukan karena kasih sayang lah yang dibutuhkan anak-anak dari orangtuanya.

Kelebihan yang terakhir dari buku ini adalah antara gambar dan tulisan saling melengkapi. Tanpa adanya tulisan untuk menjelaskan gambar, cerita dalam buku ini tidak akan dimengerti dan dipahami oleh anak-anak. Gambar-gambar tersebut sangat mendukung tulisan-tulisan dalam cerita. Anak-anak pun dapat mengetahui bagaimana karakter fisik tokoh-tokoh, suasana, benda-benda ataupun instrumen-instrumen yang dihadirkan untuk mendukung jalannya cerita tersebut.

Sedangkan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam buku ini diantaranya adalah pertama, terdapat tulisan di bagian atas dari sampul depan buku ini yaitu “Kisah Inspirasi Anak”. Menurut saya tidak perlu ada tulisan tersebut karena para pembaca lah yang akan menentukan nantinya apakah kisah dalam buku tersebut memang dapat menginspirasi anak atau tidak. Selain itu, dengan dicantumkannya tulisan tersebut di bagian atas dari sampul depan buku, seolah-olah kisah ini memang sudah dijamin akan menginspirasi anak-anak sehingga para orangtua tidak ragu lagi untuk membeli buku tersebut untuk dibaca oleh anaknya.

Kedua, pada ilustrasi tokoh Qania yang digambarkan, menurut saya tidak perlu diilustrasikan dengan memakai kacamata, karena anak yang jenius atau cerdas tidak selalu disimbolkan memakai kacamata. Dengan dipakaikannya kacamata pada tokoh Qania, dapat membuat anak-anak memiliki ideologi bahwa anak yang jenius pasti selalu memakai kacamata.

Ketiga, ilustrasi gambar-gambar abstrak yang tidak jelas gunanya untuk menggambarkan hal apa. Seperti adanya ilustrasi gambar bunga-bunga serta gambar-gambar abstrak dibelakang Qania pada halaman 2 pada buku ini. Gambar tersebut tidak jelas, apakah itu sebuah dinding atau hanya hiasan untuk membuat gambar tersebut menjadi menarik. Gambar-gambar abstrak tersebut juga terdapat dibeberapa halaman selanjutnya.

Keempat, dalam cerita ini terdapat gambar yang menggambarkan Qania sedang menggunakan laptop untuk menjelajah internet tanpa didampingi orangtua. Menurut saya, walaupun Qania anak yang pintar dan jenius tetapi tetap perlu adanya dampingan dari orang tuanya. Terdapat segala hal dalam internet, semua orang tanpa memandang usia dapat dengan mudah mengakses berbagai hal. Jika tidak didampingi orangtua, bisa saja Qania melihat hal-hal negatif yang seharusnya belum ia ketahui seperti contohnya pornografi. Seharusnya dalam cerita tersebut juga dicontohkan bagaimana seharusnya peran orangtua untuk terus mendampingi anaknya dalam berbagai hal yang dilakukannya.

Kelima, Qania diceritakan selalu belajar dan tidak diceritakan memiliki waktu untuk bermain bersama teman-teman sebayanya. Seharusnya, selain rajin belajar dan membaca buku, Qania diceritakan juga memiliki waktu yang cukup untuk bermain bersama teman-temannya. Karena sebaiknya antara waktu belajar dan waktu bermain harus seimbang. Sehingga, Qania dapat menjadi anak yang jenius serta memiliki waktu bermain bersama teman-temannya sehingga Qania tetap tumbuh seperti anak-anak yang normal lainnya.

Keenam, pekerjaan orangtua Qania yang keduanya memiliki pekerjaan mapan dan secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa orangtua Qania berpendidikan tinggi, menurut saya tidak perlu disebutkan pekerjaannya seperti itu, karena anak yang jenius atau cerdas belum tentu berasal dari orang tua yang berpendidikan tinggi. Menurut saya, lebih baik menceritakan kisah anak yang cerdas atau jenius walaupun memiliki orangtua yang tidak berpendidikan tinggi, misalnya orangtuanya bekerja sebagai buruh atau petani tetapi memiliki
anak yang sangat pintar atau jenius.

Ketujuh, dalam buku ini terdapat unsur sebuah agama yaitu Agama Islam. Hal itu membuat buku ini tidak dapat dikonsumsi secara universal, seharusnya unsur agama tersebut dihilangkan saja agar tidak ada pemikiran adanya agama yang lebih baik dan sebaliknya. Padahal belum tentu, anak yang membaca buku tersebut berasal dari keluarga yang beragama Islam. Menurut saya dengan adanya unsur sebuah agama tersebut, membuat adanya stereotip bahwa di Indonesia identik dengan orang-orang yang beragama Islam. Menurut saya hal tersebut tidak baik.

Selain itu, saya tidak setuju dengan cara pemakaian hijab dari Ibu Qania yang tidak baik dan benar, gambar tersebut terdapat di halaman 10 dan 35.  Pemakaian hijab yang benar dan sesuai dengan aturan Agama Islam adalah dengan tidak sengaja memperlihatkan rambut sehelaipun karena menurut aturan Islam rambut adalah bagian dari aurat perempuan yang harus ditutupi. Oleh karena itu, jika penggambaran Ibu Qania yang memakai hijab tidak sesuai aturan tersebut, maka anak-anak yang beragama Islam tanpa adanya pengarahan dari orangtuanya bisa saja akan mengikuti pemakaian hijab yang tidak benar tersebut.

Kedelapan, dalam cerita tersebut diceritakan bahwa Qania diajarkan membaca Al-Quran oleh pengasuhnya sendiri yang bernama Mbak Ti. Menurut saya hal tersebut sangat memprihatinkan karena yang seharusnya mengajarkan mengenai pengetahuan agama yang salah satunya adalah membaca kitab suci Al-Quran adalah orangtua atau keluarga. Peran orangtua disana sangat penting, karena orangtua adalah panutan anak. Sesibuk-sibuknya orangtua, tetapi untuk hal-hal yang menyangkut pengetahuan agama seharusnya diajarkan pertama kali oleh orangtua. Tetapi sayangnya di dalam cerita tersebut malah diceritakan Qania diajarkan mengaji pertama kali oleh pengasuhnya, seolah-olah terlihat bahwa pengasuhnya lebih mengerti soal membaca Al-Quran atau mengaji daripada orangtuanya. Bila anak-anak melihat hal seperti ini, bisa saja mereka akan memiliki pemahaman bahwa yang mengajarkan Al-Quran adalah pengasuhnya bukan orangtuanya sendiri. Sehingga mereka akan meminta diajarkan mengaji oleh pengasuhnya bukan orang tuanya.

Kesembilan, pada bagian halaman buku paling belakang terdapat kolom Sang Inspirator. Inspirator yang diceritakan tersebut adalah seorang anak jenius yang bernama Arya Bagus Kevin. Ia sudah menjadi mahasiswa pada usia 14 tahun, padahal untuk seumurannya seharusnya ia masih belajar di Sekolah Menengah Pertama. Menurut saya, pemilihan Arya untuk dijadikan inspirasi oleh anak-anak tersebut tidak tepat. Karena, Arya memang dianugrahkan kejeniusan sejak lahir, sedangkan tidak semua anak dapat seperti itu. Ada anak-anak yang memiliki kemampuan untuk menyerap pelajaran dengan sedikit lambat dan juga ada anak-anak yang kemampuan untuk menyerap berbagai pelajaran atau pengetahuan umum hanya biasa saja, tidak terlalu cepat ataupun lambat. Lagi pula, kemampuan anak-anak itu berbeda-beda. Anak yang dikatakan jenius tidak selalu harus ahli dalam bidang pelajaran-pelajaran atau pengetahuan umum dari sekolah. Ada anak yang dari kecil sudah ahli dalam memainkan alat musik, menggambar atau hal-hal yang berhubungan dengan seni lainnya ataupun bidang olahraga. Anak-anak yang seperti itu menurut saya juga dapat dikatakan sebagai anak yang jenius. Dengan dipilihnya anak yang bernama Arya tersebut, saya curiga orangtua akan membandingkan anaknya dengan Arya yang jenius dalam bidang pelajaran tersebut. Orangtua akan beranggapan, anak yang jenius adalah anak yang hebat dibidang pelajaran-pelajaran di sekolah bukan dibidang lainnya seperti seni ataupun olahraga. Anak memiliki bakat atau kemampuan yang berbeda-beda. Maka dari itu orangtua seharusnya mendukung anak sesuai dengan bakat serta minatnya. Ideologi yang mengatakan bahwa anak yang jenius atau sangat pintar adalah anak yang berhasil dibidang akademik seperti di sekolah atau olimpiade-olimpiade ilmiah, menurut saya salah besar. Oleh karena itu saya tidak setuju dengan pemilihan Arya sebagai inspirator untuk anak-anak.

Dari pemaparan yang telah saya berikan diatas dapat disimpulkan bahwa buku ini tidak bagus untuk anak. Hal tersebut terlihat dari lebih banyaknya kekurangan dari buku ini daripada kelebihannya. Adanya tulisan “Kisah Inspirasi Anak” di sampul depan, tidak menjamin hal tersebut benar adanya, yang terjadi malah sebaliknya. Buku ini seharusnya ditinjau kembali dengan bijak apakah baik untuk dibaca anak-anak atau tidak, jangan malah langsung diedarkan di pasaran.

No comments:

Post a Comment