Apakah
Buku Qania Serba Tahu adalah Buku Cerita Bergambar Anak yang Baik?
Oleh:
Yessi Yolanda Guci
Judul
buku : Qania Serba Tahu
Penulis :
Pipiet Senja
Ilustrasi : Yul C
Buku cerita bergambar
anak yang berjudul Qania Serba Tahu
ini, menurut saya memiliki lebih banyak kekurangan daripada kelebihan
didalamnya. Saya akan menyebutkan kelebihannya terlebih dahulu.
Pertama, buku ini ingin
mengajak anak-anak untuk gemar
membaca sejak dini. Anak-anak yang membaca buku ini diharapkan dapat mencontoh
Qania yang gemar membaca sejak dini. Terlihat dari cerita bahwa Qania gemar
membaca buku sejak kecil. Hal tersebut terdapat pada kalimat “Sejak kecil, membaca buku adalah
kegemarannya.” (hal.4). Dampak dari kegemaran Qania membaca buku adalah Qania
menjadi anak yang pintar. Buku ini mengharapkan anak-anak untuk lebih bisa
mengasah keinginan-tahuannya terhadap berbagai hal melalui membaca agar dapat
memiliki berbagai pengetahuan sejak masih dini. Menurut saya, hal tersebut baik
untuk anak.
Kedua, di halaman awal
buku ini terdapat kolom yang berjudul Tips
untuk Orangtua, menurut saya tips-tips tersebut bermanfaat untuk para
orangtua, karena menurut saya tidak semua orangtua dapat memahami bagaimana
cara yang baik dan tepat untuk menangani kemampuan yang dimiliki anaknya. Salah
satu tips dari empat tips untuk orangtua tersebut berisi, “Anak akan lebih
mudah terstimulus dari kebiasaan dan perilaku yang ditampilkan kedua
orangtuanya. Maka, tampilkanlah kebiasaan dan perilaku terbaik agar anak
mencontohnya.” Tips tersebut sangat berguna untuk para orangtua agar lebih
berhati-hati dalam hal berperilaku di depan anaknya. Para orangtua diharapkan
lebih bijak dalam berperilaku karena anak-anak akan meniru apapun yang
dilihatnya tanpa dapat membedakan hal tersebut baik ataupun buruk.
Ketiga, diangkatnya
tema anak yang jenius dalam cerita ini. Anak-anak yang berada di dunia ini
memiliki kemampuan otak yang beragam, dan diantaranya terdapat anak yang
memiliki otak jenius. Otak anak tersebut lebih cepat dalam menyerap berbagai
pengetahuan dibandingkan otak anak-anak seumurnya. Dari cerita tersebut
orangtua yang memiliki anak yang jenius dapat memahami bagaimana cara yang baik
dan tepat untuk menangani kemampuan anaknya tersebut, seperti yang ditampilkan
dalam cerita bahwa orangtua Qania akhirnya menyekolahkan Qania sementara di
rumah dengan didampingi oleh ayah dan ibunya karena Qania telah memiliki
kemampuan diatas tingkat kelas pada usianya. Dengan ayah dan ibunya
mendampinginya tersebut memperlihatkan bahwa Qania mendapatkan kasih sayang
dari orangtuanya tersebut dan memang itulah yang seharusnya para orangtua
lakukan karena kasih sayang lah yang dibutuhkan anak-anak dari orangtuanya.
Kelebihan yang terakhir
dari buku ini adalah antara gambar dan tulisan saling melengkapi. Tanpa adanya
tulisan untuk menjelaskan gambar, cerita dalam buku ini tidak akan dimengerti
dan dipahami oleh anak-anak. Gambar-gambar tersebut sangat mendukung
tulisan-tulisan dalam cerita. Anak-anak pun dapat mengetahui bagaimana karakter
fisik tokoh-tokoh, suasana, benda-benda ataupun instrumen-instrumen yang
dihadirkan untuk mendukung jalannya cerita tersebut.
Sedangkan
kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam buku ini diantaranya adalah pertama,
terdapat tulisan di bagian atas dari sampul depan buku ini yaitu “Kisah
Inspirasi Anak”. Menurut saya tidak perlu ada tulisan tersebut karena para
pembaca lah yang akan menentukan nantinya apakah kisah dalam buku tersebut
memang dapat menginspirasi anak atau tidak. Selain itu, dengan dicantumkannya
tulisan tersebut di bagian atas dari sampul depan buku, seolah-olah kisah ini
memang sudah dijamin akan menginspirasi anak-anak sehingga para orangtua tidak
ragu lagi untuk membeli buku tersebut untuk dibaca oleh anaknya.
Kedua, pada ilustrasi
tokoh Qania yang digambarkan, menurut saya tidak perlu diilustrasikan dengan
memakai kacamata, karena anak yang jenius atau cerdas tidak selalu disimbolkan
memakai kacamata. Dengan dipakaikannya kacamata pada tokoh Qania, dapat membuat
anak-anak memiliki ideologi bahwa anak yang jenius pasti selalu memakai
kacamata.
Ketiga, ilustrasi
gambar-gambar abstrak yang tidak jelas gunanya untuk menggambarkan hal apa.
Seperti adanya ilustrasi gambar bunga-bunga serta gambar-gambar abstrak
dibelakang Qania pada halaman 2 pada buku ini. Gambar tersebut tidak jelas, apakah
itu sebuah dinding atau hanya hiasan untuk membuat gambar tersebut menjadi
menarik. Gambar-gambar abstrak tersebut juga terdapat dibeberapa halaman
selanjutnya.
Keempat, dalam cerita
ini terdapat gambar yang menggambarkan Qania sedang menggunakan laptop untuk
menjelajah internet tanpa didampingi orangtua. Menurut saya, walaupun Qania
anak yang pintar dan jenius tetapi tetap perlu adanya dampingan dari orang
tuanya. Terdapat segala hal dalam internet, semua orang tanpa memandang usia
dapat dengan mudah mengakses berbagai hal. Jika tidak didampingi orangtua, bisa
saja Qania melihat hal-hal negatif yang seharusnya belum ia ketahui seperti
contohnya pornografi. Seharusnya dalam cerita tersebut juga dicontohkan
bagaimana seharusnya peran orangtua untuk terus mendampingi anaknya dalam
berbagai hal yang dilakukannya.
Kelima, Qania
diceritakan selalu belajar dan tidak diceritakan memiliki waktu untuk bermain
bersama teman-teman sebayanya. Seharusnya, selain rajin belajar dan membaca
buku, Qania diceritakan juga memiliki waktu yang cukup untuk bermain bersama
teman-temannya. Karena sebaiknya antara waktu belajar dan waktu bermain harus
seimbang. Sehingga, Qania dapat menjadi anak yang jenius serta memiliki waktu
bermain bersama teman-temannya sehingga Qania tetap tumbuh seperti anak-anak
yang normal lainnya.
Keenam, pekerjaan
orangtua Qania yang keduanya memiliki pekerjaan mapan dan secara tidak langsung
dapat dikatakan bahwa orangtua Qania berpendidikan tinggi, menurut saya tidak
perlu disebutkan pekerjaannya seperti itu, karena anak yang jenius atau cerdas
belum tentu berasal dari orang tua yang berpendidikan tinggi. Menurut saya,
lebih baik menceritakan kisah anak yang cerdas atau jenius walaupun memiliki
orangtua yang tidak berpendidikan tinggi, misalnya orangtuanya bekerja sebagai
buruh atau petani tetapi memiliki
anak yang sangat pintar
atau jenius.
Ketujuh,
dalam buku ini terdapat unsur sebuah agama yaitu Agama Islam. Hal itu membuat
buku ini tidak dapat dikonsumsi secara universal, seharusnya unsur agama
tersebut dihilangkan saja agar tidak ada pemikiran adanya agama yang lebih baik
dan sebaliknya. Padahal belum tentu, anak yang membaca buku tersebut berasal
dari keluarga yang beragama Islam. Menurut saya dengan adanya unsur sebuah
agama tersebut, membuat adanya stereotip bahwa di Indonesia identik dengan
orang-orang yang beragama Islam. Menurut saya hal tersebut tidak baik.
Selain
itu, saya tidak setuju dengan cara pemakaian hijab dari Ibu Qania yang tidak
baik dan benar, gambar tersebut terdapat di halaman 10 dan 35. Pemakaian hijab yang benar dan sesuai dengan
aturan Agama Islam adalah dengan tidak sengaja memperlihatkan rambut sehelaipun
karena menurut aturan Islam rambut adalah bagian dari aurat perempuan yang
harus ditutupi. Oleh karena itu, jika penggambaran Ibu Qania yang memakai hijab
tidak sesuai aturan tersebut, maka anak-anak yang beragama Islam tanpa adanya
pengarahan dari orangtuanya bisa saja akan mengikuti pemakaian hijab yang tidak
benar tersebut.
Kedelapan,
dalam cerita tersebut diceritakan bahwa Qania diajarkan membaca Al-Quran oleh
pengasuhnya sendiri yang bernama Mbak Ti. Menurut saya hal tersebut sangat
memprihatinkan karena yang seharusnya mengajarkan mengenai pengetahuan agama
yang salah satunya adalah membaca kitab suci Al-Quran adalah orangtua atau
keluarga. Peran orangtua disana sangat penting, karena orangtua adalah panutan
anak. Sesibuk-sibuknya orangtua, tetapi untuk hal-hal yang menyangkut
pengetahuan agama seharusnya diajarkan pertama kali oleh orangtua. Tetapi
sayangnya di dalam cerita tersebut malah diceritakan Qania diajarkan mengaji
pertama kali oleh pengasuhnya, seolah-olah terlihat bahwa pengasuhnya lebih
mengerti soal membaca Al-Quran atau mengaji daripada orangtuanya. Bila
anak-anak melihat hal seperti ini, bisa saja mereka akan memiliki pemahaman
bahwa yang mengajarkan Al-Quran adalah pengasuhnya bukan orangtuanya sendiri.
Sehingga mereka akan meminta diajarkan mengaji oleh pengasuhnya bukan orang
tuanya.
Kesembilan,
pada bagian halaman buku paling belakang terdapat kolom Sang Inspirator. Inspirator yang diceritakan tersebut adalah
seorang anak jenius yang bernama Arya Bagus Kevin. Ia sudah menjadi mahasiswa
pada usia 14 tahun, padahal untuk seumurannya seharusnya ia masih belajar di
Sekolah Menengah Pertama. Menurut saya, pemilihan Arya untuk dijadikan
inspirasi oleh anak-anak tersebut tidak tepat. Karena, Arya memang dianugrahkan
kejeniusan sejak lahir, sedangkan tidak semua anak dapat seperti itu. Ada
anak-anak yang memiliki kemampuan untuk menyerap pelajaran dengan sedikit lambat
dan juga ada anak-anak yang kemampuan untuk menyerap berbagai pelajaran atau
pengetahuan umum hanya biasa saja, tidak terlalu cepat ataupun lambat. Lagi
pula, kemampuan anak-anak itu berbeda-beda. Anak yang dikatakan jenius tidak
selalu harus ahli dalam bidang pelajaran-pelajaran atau pengetahuan umum dari
sekolah. Ada anak yang dari kecil sudah ahli dalam memainkan alat musik,
menggambar atau hal-hal yang berhubungan dengan seni lainnya ataupun bidang
olahraga. Anak-anak yang seperti itu menurut saya juga dapat dikatakan sebagai
anak yang jenius. Dengan dipilihnya anak yang bernama Arya tersebut, saya
curiga orangtua akan membandingkan anaknya dengan Arya yang jenius dalam bidang
pelajaran tersebut. Orangtua akan beranggapan, anak yang jenius adalah anak
yang hebat dibidang pelajaran-pelajaran di sekolah bukan dibidang lainnya
seperti seni ataupun olahraga. Anak memiliki bakat atau kemampuan yang
berbeda-beda. Maka dari itu orangtua seharusnya mendukung anak sesuai dengan
bakat serta minatnya. Ideologi yang mengatakan bahwa anak yang jenius atau
sangat pintar adalah anak yang berhasil dibidang akademik seperti di sekolah
atau olimpiade-olimpiade ilmiah, menurut saya salah besar. Oleh karena itu saya
tidak setuju dengan pemilihan Arya sebagai inspirator untuk anak-anak.
Dari
pemaparan yang telah saya berikan diatas dapat disimpulkan bahwa buku ini tidak
bagus untuk anak. Hal tersebut terlihat dari lebih banyaknya kekurangan dari
buku ini daripada kelebihannya. Adanya tulisan “Kisah Inspirasi Anak” di sampul
depan, tidak menjamin hal tersebut benar adanya, yang terjadi malah sebaliknya.
Buku ini seharusnya ditinjau kembali dengan bijak apakah baik untuk dibaca
anak-anak atau tidak, jangan malah langsung diedarkan di pasaran.
No comments:
Post a Comment