Tentang
Biografi dalam Mata Kuliah Bacaan Anak Indonesia
Oleh
: Yessi Yolanda Guci
Mata
Kuliah : Bacaan Anak Indonesia
Dosen : Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D
Dosen : Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D
Tema
: Biografi
Tanggal
Perkuliahan : 10-03-2015
Pada
hari Selasa, tanggal 10 Maret 2015, Ibu Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D membahas
tema mengenai biografi di kelas Bacaan Anak Indonesia. Menurut Ibu Riris,
biografi adalah jenis karya sastra non fiksi (cerita berdasarkan fakta bukan
cerita fantasi, dongeng atau legenda) dan biografi tersebut berisi mengenai
manusia. Selain itu menurut Ibu Riris, biografi merupakan perjalanan kehidupan
seseorang dan selalu terkait dengan sejarah,
sejarah yang dimaksud disini adalah sejarah hidup seseorang. Dalam hal
ini saya memiliki suatu paham mengenai biografi itu sendiri, yaitu biografi
haruslah mengenai perjalanan kehidupan seseorang dan harus ditulis atau
diceritakan sesuai kenyataan yang ada karena biografi adalah jenis karya sastra
non fiksi bukan karya sastra fiksi yang ceritanya dapat dikarang oleh seseorang
dan tidak sesuai fakta atau kenyataan. Biografi tersebut juga selalu terkait
dengan sejarah hidup seseorang, karena biografi mengangkat cerita mengenai
perjalanan hidup seseorang yang dialami orang tersebut di masa lalunya.
Ibu
Riris juga menjelaskan bahwa biografi penting untuk membangun seorang anak.
Menurut Ibu Riris, pada masa golden age
anak-anak harus diberi tokoh teladan.
Saya sangat setuju dengan pernyataan Ibu Riris tersebut karena pada masa
tersebut anak-anak masih memiliki otak yang “segar”, yaitu otaknya masih mudah
menyerap banyak hal atau informasi, masih mudah mencerna informasi baru yang
mereka dapatkan dan informasi-informasi tersebut nantinya akan berdampak bagi
anak di kemudian hari. Oleh karena itu, pada masa-masa tersebut anak-anak
sangat baik untuk diberikan pengetahuan mengenai tokoh-tokoh yang baik untuk
mereka teladani. Menurut saya, bila anak-anak sudah dibekali seorang ataupun
banyak tokoh teladan yang baik untuk mereka teladani pada masa golden age
tersebut maka anak-anak tersebut akan menjadi anak-anak yang percaya diri,
memiliki tekad yang kuat dan tidak mudah putus asa. Misalnya seperti, ada
seorang tokoh yang pada masa lalunya hanya seorang perantau dari Padang ke
Jakarta yang tidak lulus SD karena keterbatasan biaya dan saat di Jakarta ia
tidak memiliki pekerjaan dan bahkan tidak memiliki rumah tetapi berkat
kegigihan dan tekad yang kuat, saat ini ia menjadi pengusaha besar di Jakarta.
Selain
itu, menurut Ibu Riris, penulis harus dapat memilih bagian mana dalam kisah
hidup seseorang yang paling baik untuk diceritakan kepada anak-anak. Penulis
harus bijaksana dalam memilih kisah mana yang lebih baik untuk anak ketahui dan
teladani. Saya sangat setuju dengan pernyataan Ibu Riris tersebut, karena
seorang tokoh yang akan diceritakan kisah perjalanan hidupnya tersebut pastinya
memiliki berbagai macam peristiwa dalam hidupnya, ada peristiwa yang buruk yang
ia alami dan juga ada yang baik. Kedua peristiwa tersebut memang sah-sah saja
untuk diceritakan karena bagian yang buruk dari seseorang itulah yang
menunjukan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Seperti misalnya pada kisah
tentang tokoh yang saya contohkan sebelumnya, walaupun ia tidak lulus SD tetapi
ia dapat menjadi pengusaha besar di Jakarta. Walaupun tokoh tersebut saat ini
sukses tetapi ia juga pernah gagal pada masa lalaunya karena ia tidak
seberuntung anak-anak lain yang dapat melanjutkan sekolah. Dari kisah kegagalan
tersebutlah yang dapat dijadikan teladan untuk anak-anak. Oleh karena itu, penulis
juga harus dapat bijaksana dalam memilah, mana hal-hal yang baik dan yang tidak
baik untuk diceritakan kepada anak-anak.
No comments:
Post a Comment