Sunday, 31 January 2016

Tentang Biografi dalam Mata Kuliah Bacaan Anak Indonesia



Tentang Biografi dalam Mata Kuliah Bacaan Anak Indonesia
Oleh : Yessi Yolanda Guci

Mata Kuliah            : Bacaan Anak Indonesia 
Dosen                     : Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D
Tema                       : Biografi
Tanggal Perkuliahan : 10-03-2015

            Pada hari Selasa, tanggal 10 Maret 2015, Ibu Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D membahas tema mengenai biografi di kelas Bacaan Anak Indonesia. Menurut Ibu Riris, biografi adalah jenis karya sastra non fiksi (cerita berdasarkan fakta bukan cerita fantasi, dongeng atau legenda) dan biografi tersebut berisi mengenai manusia. Selain itu menurut Ibu Riris, biografi merupakan perjalanan kehidupan seseorang dan selalu terkait dengan sejarah,  sejarah yang dimaksud disini adalah sejarah hidup seseorang. Dalam hal ini saya memiliki suatu paham mengenai biografi itu sendiri, yaitu biografi haruslah mengenai perjalanan kehidupan seseorang dan harus ditulis atau diceritakan sesuai kenyataan yang ada karena biografi adalah jenis karya sastra non fiksi bukan karya sastra fiksi yang ceritanya dapat dikarang oleh seseorang dan tidak sesuai fakta atau kenyataan. Biografi tersebut juga selalu terkait dengan sejarah hidup seseorang, karena biografi mengangkat cerita mengenai perjalanan hidup seseorang yang dialami orang tersebut di masa lalunya.
            Ibu Riris juga menjelaskan bahwa biografi penting untuk membangun seorang anak. Menurut Ibu Riris, pada masa golden age anak-anak  harus diberi tokoh teladan. Saya sangat setuju dengan pernyataan Ibu Riris tersebut karena pada masa tersebut anak-anak masih memiliki otak yang “segar”, yaitu otaknya masih mudah menyerap banyak hal atau informasi, masih mudah mencerna informasi baru yang mereka dapatkan dan informasi-informasi tersebut nantinya akan berdampak bagi anak di kemudian hari. Oleh karena itu, pada masa-masa tersebut anak-anak sangat baik untuk diberikan pengetahuan mengenai tokoh-tokoh yang baik untuk mereka teladani. Menurut saya, bila anak-anak sudah dibekali seorang ataupun banyak tokoh teladan yang baik untuk mereka teladani pada masa golden age tersebut maka anak-anak tersebut akan menjadi anak-anak yang percaya diri, memiliki tekad yang kuat dan tidak mudah putus asa. Misalnya seperti, ada seorang tokoh yang pada masa lalunya hanya seorang perantau dari Padang ke Jakarta yang tidak lulus SD karena keterbatasan biaya dan saat di Jakarta ia tidak memiliki pekerjaan dan bahkan tidak memiliki rumah tetapi berkat kegigihan dan tekad yang kuat, saat ini ia menjadi pengusaha besar di Jakarta.
            Selain itu, menurut Ibu Riris, penulis harus dapat memilih bagian mana dalam kisah hidup seseorang yang paling baik untuk diceritakan kepada anak-anak. Penulis harus bijaksana dalam memilih kisah mana yang lebih baik untuk anak ketahui dan teladani. Saya sangat setuju dengan pernyataan Ibu Riris tersebut, karena seorang tokoh yang akan diceritakan kisah perjalanan hidupnya tersebut pastinya memiliki berbagai macam peristiwa dalam hidupnya, ada peristiwa yang buruk yang ia alami dan juga ada yang baik. Kedua peristiwa tersebut memang sah-sah saja untuk diceritakan karena bagian yang buruk dari seseorang itulah yang menunjukan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Seperti misalnya pada kisah tentang tokoh yang saya contohkan sebelumnya, walaupun ia tidak lulus SD tetapi ia dapat menjadi pengusaha besar di Jakarta. Walaupun tokoh tersebut saat ini sukses tetapi ia juga pernah gagal pada masa lalaunya karena ia tidak seberuntung anak-anak lain yang dapat melanjutkan sekolah. Dari kisah kegagalan tersebutlah yang dapat dijadikan teladan untuk anak-anak. Oleh karena itu, penulis juga harus dapat bijaksana dalam memilah, mana hal-hal yang baik dan yang tidak baik untuk diceritakan kepada anak-anak.

No comments:

Post a Comment